Empat Musim Pertiwi Menuju TIFF, Putri Marino-Arya Saloka Reuni

7 Min Read

layarinfo menyoroti Empat Musim Pertiwi setelah trailer terbarunya mempertemukan kembali Putri Marino dan Arya Saloka dalam proyek Kamila Andini. Ketiganya sebelumnya berkolaborasi dalam Gadis Kretek bersama produser Ifa Isfansyah. Kini mereka kembali melalui cerita yang lebih personal tentang seorang perempuan bernama Pertiwi yang pulang setelah menjalani 20 tahun penjara dan harus menghadapi kehidupan yang sudah berubah sekaligus luka yang belum benar-benar selesai.

Film ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 8 Oktober 2026. Sebelum itu, Empat Musim Pertiwi membawa cerita lokal menuju rangkaian festival internasional, termasuk Toronto, Busan, dan Tokyo.

Putri Marino Menjadi Pertiwi

Putri Marino memegang pusat cerita sebagai Pertiwi.

Karakter tersebut kembali ke tanah kelahirannya setelah dua dekade berada di penjara. Kepulangan yang seharusnya membawa kebebasan justru membuka kembali ingatan terhadap peristiwa traumatis yang mengubah kehidupannya.

Pertiwi sebelumnya dipenjara setelah membunuh seorang pria yang mencoba melakukan kekerasan seksual terhadapnya. Setelah keluar, persoalan tidak otomatis selesai.

Ia harus menghadapi keluarga, lingkungan lama, rasa bersalah, trauma, dan pertanyaan mengenai seperti apa hidup yang masih bisa ia bangun.

Cerita seperti ini memberi Putri ruang bermain yang sangat berbeda dari karakter romantis konvensional.

Perjalanan utamanya bukan mencari pasangan atau mengejar kemenangan tertentu, tetapi mengambil kembali kendali atas hidupnya.

Reuni Putri Marino dan Arya Saloka

Daya tarik lain datang dari pertemuan Putri Marino dan Arya Saloka setelah Gadis Kretek.

Putri menggambarkan kolaborasi tersebut seperti pulang. Ia merasa nyaman kembali bekerja dengan Kamila Andini, Ifa Isfansyah, dan Arya karena sudah terbentuk kepercayaan dari proyek sebelumnya.

Arya menyampaikan perasaan serupa. Baginya, ajakan kembali bekerja bersama tim yang sama terasa seperti pulang setelah melakukan perjalanan panjang.

Reuni ini tentu akan memancing rasa penasaran penonton yang menyukai dinamika keduanya di Gadis Kretek.

Namun Empat Musim Pertiwi bukan kelanjutan hubungan karakter mereka sebelumnya. Film ini berdiri sebagai dunia baru dengan persoalan dan bahasa visual yang berbeda.

Ide Film Sudah Ada Sejak 2017

Kamila Andini ternyata menyimpan gagasan Empat Musim Pertiwi cukup lama.

Ia pertama kali menulis ide dasar pada 2017, tetapi proses penulisan dan produksi baru benar-benar bergerak beberapa tahun kemudian setelah menyelesaikan Gadis Kretek.

Inspirasi visualnya berkaitan dengan perjalanan keluarga ke kawasan Bromo, Jawa Timur.

Kamila melihat satu lanskap yang seolah mempunyai tekstur empat musim meskipun Indonesia secara geografis tidak mengalaminya. Gambaran tersebut kemudian berkembang menjadi metafora mengenai beberapa fase kehidupan seorang perempuan.

Empat musim pada akhirnya bukan hanya elemen visual. Ia menjadi cara untuk membaca perubahan, kehilangan, kematian, kelahiran kembali, dan perjalanan Pertiwi memahami dirinya.

Film yang Disebut Paling Berat bagi Kamila

Meski sudah memiliki pengalaman menyutradarai sejumlah film, Kamila menyebut Empat Musim Pertiwi sebagai salah satu karya yang paling berat baginya.

Cerita membawa isu trauma, kekerasan, identitas, dan posisi perempuan dalam lingkungan sosial. Semua tema tersebut membutuhkan keseimbangan agar film tidak sekadar menjadi kumpulan penderitaan.

Tantangannya adalah membuat Pertiwi tetap menjadi manusia yang utuh.

Ia bukan hanya korban, bukan semata simbol perlawanan, dan bukan karakter yang seluruh identitasnya ditentukan oleh masa lalu.

Inilah bagian yang membuat film terasa menarik dari sudut pandang cerita. Kepulangan Pertiwi dapat dibaca sebagai perjalanan geografis sekaligus perjalanan emosional.

Christine Hakim dan Hanna Aretha Menambah Lapisan Cerita

Jajaran pemain tidak berhenti pada Putri dan Arya.

Christine Hakim ikut bergabung, bersama Hana Pitrashata Malasan dan sejumlah aktor lain. Hanna Aretha juga menjalani debut layar lebar dengan memerankan Raras, seorang anak perempuan tuli.

Kehadiran Hanna memberi ruang representasi Teman Tuli dalam cerita.

Raras digambarkan sebagai sosok yang mencari ruang untuk dipahami dan memiliki hubungan tematik dengan perjalanan Pertiwi.

Pilihan casting tersebut menarik karena film tidak hanya berbicara mengenai siapa yang mampu bersuara, tetapi juga tentang siapa yang selama ini gagal didengar lingkungan di sekitarnya.

Dari Toronto Menuju Busan dan Tokyo

Perjalanan internasional menjadi modal penting sebelum rilis nasional.

Empat Musim Pertiwi mendapat kesempatan menjalani world premiere di Toronto International Film Festival 2026. Setelah itu film melanjutkan perjalanan menuju Busan dan Tokyo.

Rangkaian festival memberi kesempatan film bertemu penonton dengan latar budaya berbeda sebelum pulang ke bioskop Indonesia.

Sementara itu, festival Busan berlangsung pada 6–15 Oktober 2026, berdekatan dengan jadwal penayangan nasional film pada 8 Oktober.

Momentum tersebut membuat periode rilis Empat Musim Pertiwi cukup menarik. Percakapan dari festival internasional bisa berjalan hampir bersamaan dengan respons penonton Indonesia.

Bromo Bukan Sekadar Background Cantik

Banyak film menggunakan Bromo karena lanskapnya fotogenik. Namun cerita Kamila tampaknya ingin memakai kawasan tersebut lebih jauh daripada postcard visual.

Perubahan warna, tanah, kabut, vegetasi, dan cuaca memberi tekstur yang cocok dengan konsep empat fase kehidupan.

Jika dieksekusi dengan konsisten, lokasi bisa menjadi bagian dari psikologi karakter.

Pertiwi pulang ke tempat yang pernah ia kenal, tetapi pemandangan yang familiar tidak berarti kehidupannya masih sama. Ruang yang indah dapat menyimpan pengalaman yang berat.

Kontras semacam ini punya potensi menjadi salah satu kekuatan visual film.

Bukan Sekadar Reuni Gadis Kretek

Nama Putri Marino, Arya Saloka, Kamila Andini, dan Ifa Isfansyah tentu membuat publik mudah menghubungkan proyek ini dengan Gadis Kretek.

Namun Empat Musim Pertiwi tampaknya menawarkan alasan sendiri untuk ditonton.

Kisahnya berpusat pada perempuan yang mencoba memaknai kembali rumah setelah hidupnya terputus selama dua dekade. Ia harus memilih apakah masa lalu akan terus menentukan masa depannya atau justru menjadi sesuatu yang akhirnya bisa ia hadapi.

Perjalanan festival internasional menambah ekspektasi, tetapi ujian sebenarnya tetap datang ketika film bertemu penonton umum pada 8 Oktober.

Jika Kamila berhasil menerjemahkan metafora empat musim tanpa membuat cerita terasa terlalu abstrak, Empat Musim Pertiwi berpotensi menjadi salah satu drama Indonesia paling menarik menjelang akhir 2026.

Dan bagi penonton yang datang karena reuni Putri Marino dan Arya Saloka, film ini mungkin menawarkan sesuatu yang jauh lebih berat daripada nostalgia Gadis Kretek: sebuah cerita tentang pulang ketika rumah sendiri tidak lagi terasa sederhana.

Share This Article
flipboard
Flipboard