Ah Girl Buka JFW, Laut Bercerita Jadi Penutup

7 Min Read

layarinfo mencatat Jakarta Film Week 2026 mulai membuka susunan program utamanya menjelang festival pada 21–25 Oktober. Panitia menempatkan film panjang asal Singapura Ah Girl karya Ang Geck Geck Priscilla sebagai pembuka, sementara Laut Bercerita karya Yosep Anggi Noen akan menutup festival pada 25 Oktober. Selama lima hari, JFW membawa tema “Encounters” dan mempertemukan sineas, penonton, talenta baru, pelaku industri, serta karya dari berbagai negara.

Dua film tersebut menawarkan karakter yang sangat berbeda.

Ah Girl melihat dunia orang dewasa melalui perspektif seorang anak. Laut Bercerita membawa penonton menuju pergulatan mahasiswa dan keluarga pada penghujung 1990-an di Indonesia.

Perbedaan itu membuat pembuka dan penutup festival mempunyai identitas yang kuat.

Ah Girl Membuka Festival dari Perspektif Anak

Ah Girl menjadi film panjang pertama sutradara Singapura Ang Geck Geck Priscilla.

Sang sutradara mengambil inspirasi dari pengalaman masa kecilnya dan menjadikan seorang anak sebagai pusat cerita.

Direktur Festival JFW Rina Damayanti mengatakan film tersebut mengajak penonton dewasa melihat kembali dunia melalui sudut pandang anak-anak.

Xuanjing Ong memerankan tokoh utama bernama Swee Swee.

Ia baru berusia sekitar tujuh tahun ketika menjalani proses produksi.

Walaupun sutradara dan pemeran utamanya sama-sama membawa semangat debut, film ini sudah mencuri perhatian di sejumlah festival internasional.

Ah Girl Membawa Rekam Jejak Festival

Ah Girl meraih Youth Jury Award di International Film Festival Rotterdam.

Xuanjing Ong juga mendapat apresiasi untuk penampilannya lewat festival di Malaysia.

Pencapaian itu membuat film datang ke Jakarta dengan reputasi yang sudah terbentuk.

JFW memilih karya Singapura sebagai pembuka bukan tanpa alasan.

Festival ingin memperkuat posisinya sebagai ruang pertemuan sinema Asia, bukan hanya tempat pemutaran film Indonesia.

Tema “Encounters” mendukung arah tersebut.

Penonton Jakarta bisa menemukan karya dari negara tetangga tanpa harus menunggu film tersebut masuk jaringan bioskop komersial.

Laut Bercerita Menjadi Penutup Festival

JFW kemudian menutup rangkaian dengan Laut Bercerita.

Yosep Anggi Noen mengadaptasi novel karya Leila S. Chudori itu ke layar lebar.

Film tersebut akan tampil pada 25 Oktober, empat hari setelah festival dimulai.

Jadwal itu juga mendekati perilisan bioskop nasional pada 29 Oktober 2026.

Lembaga Sensor Film mencatat durasi Laut Bercerita mencapai sekitar 135 menit dengan klasifikasi usia 17 tahun.

Cerita membawa tema idealisme, pergerakan mahasiswa, kehilangan, serta dampak kekerasan politik terhadap keluarga.

Reza Rahadian Memerankan Biru Laut

Reza Rahadian tampil sebagai Biru Laut, mahasiswa yang aktif dalam kelompok diskusi dan pergerakan pada penghujung masa Orde Baru.

Film ini juga menghadirkan Dian Sastrowardoyo, Christine Hakim, Dewa Dayana, Yunita Siregar, Eva Celia, Yoga Pratama, dan sejumlah pemain lain.

Kekuatan novel Laut Bercerita tidak hanya muncul dari aktivitas politik para mahasiswa.

Cerita juga memberi ruang besar kepada keluarga yang hidup dengan kehilangan dan ketidakpastian.

Yosep Anggi Noen menghadapi tantangan besar saat mengadaptasinya.

Pembaca novel sudah mempunyai gambaran sendiri tentang tokoh, suasana, dan emosi cerita.

Film harus menemukan bahasa visual yang kuat tanpa sekadar menyalin halaman demi halaman.

Laut Bercerita Lebih Dulu Menuju Busan

Sebelum tampil di Jakarta, Laut Bercerita juga masuk perjalanan festival internasional.

Film tersebut menuju Busan International Film Festival pada Oktober.

Langkah itu memberi kesempatan bagi karya Indonesia bertemu penonton, programmer, distributor, dan media internasional sebelum masuk bioskop nasional.

Festival luar negeri mempunyai fungsi penting bagi film Indonesia.

Sebuah karya bisa menemukan distributor baru, undangan festival lanjutan, atau peluang penjualan hak tayang setelah tampil di forum internasional.

Perjalanan seperti ini membantu film membangun reputasi sebelum berhadapan dengan pasar komersial.

JFW Berlangsung Selama Lima Hari

Jakarta Film Week 2026 akan berlangsung pada 21–25 Oktober secara luring dan daring.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kembali mendukung festival sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem film di ibu kota.

Konsep kota sinema tidak cukup hanya dengan menambah jumlah bioskop.

Jakarta membutuhkan rumah produksi, lokasi syuting, festival, pekerja kreatif, sekolah film, pendanaan, penonton, serta regulasi yang saling terhubung.

Festival berperan sebagai titik temu dari berbagai bagian tersebut.

Festival Tidak Hanya Menayangkan Film

Jakarta Film Week juga menjalankan berbagai program industri.

Jakarta Film Fund memberi ruang pendanaan dan pengembangan proyek.

JFW Net mempertemukan sineas dengan produser, mentor, investor, serta pelaku industri melalui forum bisnis, masterclass, dan producers lab.

Program seperti ini sangat penting untuk pembuat film muda.

Ide bagus tidak otomatis berubah menjadi film.

Sebuah proyek membutuhkan pengembangan naskah, pendanaan, produser, kru, distributor, strategi festival, dan rencana pemasaran.

JFW mencoba menghubungkan kebutuhan tersebut dalam satu ekosistem.

Teknologi Baru Masuk Pengalaman Menonton

JFW 2026 juga memperkenalkan program JFW Vision dengan pengalaman berbasis virtual reality.

Teknologi VR mengubah cara penonton berinteraksi dengan karya audiovisual.

Pada film biasa, sutradara menentukan bingkai yang dilihat penonton.

Dalam VR, penonton dapat mengubah arah pandang dan merasakan ruang secara lebih aktif.

Hal itu memaksa pembuat karya memikirkan komposisi, suara, dan pergerakan dengan pendekatan berbeda.

Kehadiran VR menunjukkan JFW tidak hanya mempertahankan model festival konvensional.

Panitia juga mencoba membaca perubahan cara publik menikmati cerita audiovisual.

Tema Encounters Terasa Relevan

Kata “Encounters” atau pertemuan cukup tepat untuk menggambarkan fungsi festival.

Pembuat film bertemu penonton.

Sineas muda bertemu produser.

Film Indonesia bertemu programmer internasional.

Penonton juga bertemu karya yang mungkin tidak pernah hadir di bioskop reguler.

Pertemuan seperti itu sering melahirkan peluang baru.

Sebuah obrolan setelah screening bisa berkembang menjadi kerja sama produksi.

Satu pemutaran bisa membawa film menuju festival lain.

Talenta baru juga dapat menemukan mentor atau mitra yang membantu proyek berikutnya.

Pembuka dan Penutup Membentuk Identitas Festival

Ah Girl dan Laut Bercerita berdiri di dua ujung festival dengan suara yang berbeda.

Ah Girl membawa pengalaman personal seorang anak dari Singapura.

Laut Bercerita mengangkat pengalaman kolektif masyarakat Indonesia mengenai kehilangan, perjuangan, dan ingatan sejarah.

Keduanya sama-sama menunjukkan kekuatan film untuk membuat penonton memasuki pengalaman orang lain.

Jakarta Film Week 2026 karena itu tidak hanya menawarkan daftar judul.

Festival ingin menciptakan percakapan antara film, kota, industri, dan penonton.

Ketika Ah Girl membuka rangkaian pada 21 Oktober dan Laut Bercerita menutupnya empat hari kemudian, kedua karya tersebut akan membingkai lima hari pertemuan sinema di Jakarta.

Share This Article
flipboard
Flipboard